Testimoni Kesembuhan Berbagai Penyakit Dalam

Posted by: admin  :  Category: Testimoni

MENYEMBUHKAN SAKIT KOMPLIKASI

MENYEMBUHKAN SAKIT JANTUNG

MENYEMBUHKAN SAKIT ASMA

Ninis. Ponorogo Jatim.
Mahasiswa Unair ini telah menderita asma selama tujuh tahun. Pergaulannya serasa terganggu akibat rasa rendah diri karena sakit sesak napas. Terutama apabila harus berbicara dengan lawan jenis. Timbul kekhawatiran jangan-jangan nanti dijauhi teman-temannya. Kekhawatiran seperti ini tidak sepenuhnya salah, sebab sebagian masyarakat memang masih menganggap penyakit asma ini dapat menular dan tidak dapat disembuhkan.
Pemuda ini menunjukkan gangguan kuat pada diafragma perut dan penurunan elastisitas otot punggungnya. Meski pun cukup rumit, namun setelah tujuh kali perawatan, penyakit asma ini dapat disembuhkan.
Pasien ini sebelumnya harus menjalani pengobatan asma dan menghabiskan 50 (lima puluh) butir obat setiap minggu ini, kini dapat tidur dengan nyenyak dan tak memerlukan pil lagi. Kalau sebelumnya dia harus menelan pil, agar tidak kambuh saat menghadap atasan, kini dia dapat berbicara dengan tenang.
Istyanti. Sidoarjo.
Ibu muda ini datang ke PENNASIA dalam keadaan pucat dan terengah-engah. Sakit asmanya muncul secara tiba-tiba dan kondisinya cukup berat. Gangguan terdeteksi pada otot dada dan penurunan elastisitas otot punggungnya. Setelah ditangani kondisinya langsung membaik.
Kehadiran berikutnya hanya merupakan penyempurnaan dari kasus tersebut. Untuk mencapai kondisi yang cukup baik, normalisasi yang diperlukan ibu ini kurang lebih sebanyak 4 kali.

MENYEMBUHKAN SAKIT JANTUNG

Riyadi. Jember.
Bapak ini merasakan mudah terkejut pada berita-berita yang sebenarnya biasa saja bagi orang lain. Juga dadanya selalu berdebar setiap kali bangun tidur. Keluhan serupa banyak disampaikan oleh penderita lain. Gangguan saraf dan penyumbatan jalan darah pedagang elektronik ini terdapat pada daerah sekitar uluhati dan rusuk kiri, ke lima dari atas.
Sakit jantung, normalisasi pada bagian dadanya menggunakan alat SIPUT bagian HEAD, HOOK maupun TAIL. Dibantu alat BASA, CAKRA bagian TORSI, ARCO maupun ARFA. Sedangkan bagian punggungnya menggunakan alat CITRA dan dibantu dengan alat BASEM.
Setelah mendapatkan normalisasi PENNASIA, ketika kembali ke Jember mendapat berita kecelakaan. Saudaranya merasa heran karena bapak ini tidak menunjukkan keterkejutan lagi.
Sumarsono. Surabaya.
Merasakan dadanya mudah berdebar-debar ketika mendengar truk / tronton lewat di dekat kantornya. Pegawai yang bekerja di Tanjung Perak ini merasa kesulitan dengan kondisi nya. Apalagi memang kantornya berdekatan dengan lalulintas kendaraan besar.
Dokter menyatakan bahwa dia memang menderita dan memberikan pengobatan sakit jantung. Tanpa setahu dokter nya, dia juga menjalani normalisasi PENNASIA. Setelah terapi normalisasi sebanyak dua kali, dokter menyatakan jantungnya sudah baik. Tetapi pasien ini masih merasakan jantungnya berdebar ketika ada truk lewat samping kantornya.
Setelah mendapat normalisasi lanjutan sebanyak tiga kali, dia tidak lagi merasakan gangguan pada dadanya. Meskipun ada truk yang melewati sebelah kantornya. Pennasia memang sangat efektif menyembuhkan sakit jantung.


Budi. Surabaya.
Menderita sakit jantung dan menjalani opname selama beberapa hari. Setelah pulang, pasien ini menjalani pengobatan jantung namun berjalan pun masih tersengal-sengal, bahkan hanya untuk berjalan beberapa langkah saja. Ketika konsultasi dengan spesialis jantung yang selama ini merawatnya, pengusaha ini diberi alamat PENNASIA.
Wiraswastawan ini berpikir praktis ‘kalau dokter jantung memberi alamat kepada saya untuk merawatkan jantung, pasti ini bagus’ katanya. Tanpa menggunakan obat sama sekali pasien ini membaik dengan tujuh kali normalisasi. Pada perawatan yang ke tiga, bapak ini sudah mengendarai sepeda motor dan tidak merasakan gangguan apapun.
Dokter yang merawat pengusaha ini menyatakan kondisi jantungnya bagus, dan tidak tahu kalau obat nya sama sekali tidak diminum. Normalisasi Pennasia senantiasa berpihak pada apa yang dirasakan pasien dan bukan semata-mata melakukan penyembuhan, atas dasar pemeriksaan alat-alat medis saja.

MENYEMBUHKAN SAKIT SAKIT MAAG
Eko. Surabaya.
Pertamakali datang menceritakan tiga kesulitan yang dialami. Bagian kaki, perut, dan mata. Normalisasi memang tidak disarankan sekaligus. Sebaiknya dipilih menurut skala prioritas. Setelah kesulitan di bagian kakinya teratasi, alumnus ITS ini menceritakan sakit maag nya.
Merasakan penderitaan di bagian perut, lelaki ini benar-benar tidak berani makan terlambat. Sakit maag nya kambuh begitu pantangan tersebut dilanggar. Akibatnya selain perut terasa sakit,wajah menjadi pucat, dan seluruh tubuh berkeringat. Membuat keluarganya khawatir.
Sakit maag yang disebabkan luka permukaan lambung segera rawat. Saraf-saraf perut dan sekitarnya ditata secara rapi dan natural. Untuk mengetahui kebenaran teori dan keberhasilan normalisasi , esoknya dilakukan tes. Penderita dipersilakan untuk menunda makan siangnya. Selang satu minggu datang kembali dan mengabarkan, maag nya tidak sakit lagi walau makan sengaja diterlambatkan. Pada kasus lain matanya yang berair, kini juga sudah kembali normal.
Syahdan Eff. Tapin Kalimantan Selatan.
Parahnya sakit maag yang dideritanya sampai mengakibatkan perut sakit ketika dia naik sepeda motor hanya sejauh satu kilometer. Konon segala pantangan dijalaninya untuk menghindarkan kambuhnya sakit ini.
Selang satu hari setelah normalisasi PENNASIA, bapak ini mencoba naik sepeda motor sejauh 10 (sepuluh) kilometer. Ternyata sakit itu tak datang lagi. Bahkan buah nanas yang biasanya menjadi pantangannya, kini tidak lagi menyakitinya, meski makan dua buah langsung.
Penderita kronis, yang biasanya meninggalkan kewajiban di bulan puasa, dapat menjalankan ibadah puasanya kembali. Terapi penyembuhan atau normalisasi yang diperlukan hanya +3 kali. Pada penderita komplikasi dengan penyakit dalam lain memerlukan terapi lebih banyak.

MENYEMBUHKAN SAKIT USUS BUNTU
httpV://www.youtube.com/watch?v=zdcHekENDwM

MENYEMBUHKAN SAKIT THYPUS
Raka. Surabaya.
Anak usia 3 tahun ini sering keluar masuk rumah sakit akibat tipesnya yang sering kambuh. Tiga hari setelah opname yang terakhir, anak ini dibawa ke tempat praktek kami. Wajahnya terlihat menderita dan lelah. Tubuhnya kurus karena susah makan dan baru keluar dari rumah sakit. Bibirnya pecah-pecah karena sariawan.
Ketika kami raba bagian perutnya, terasa panas menunjukkan tipesnya belum sembuh. Namun diperbolehkan pulang dari rumah sakit, karena pemeriksaan laboratorium sudah menunjukkan kesembuhan. Rasa panas yang berlebih dari tubuh kita, menunjukkan adanya infeksi di suatu lokasi.
Setelah enam kali normalisasi, anak ini tidak pernah lagi opname ke rumah sakit, dan tetap sehat. Anak ini semakin pintar saja. Ketika suatu saat merasa ada gangguan di tubuhnya, dia bisa mengatakan ‘Ma, ke Pak Azis yuk, Raka badannya agak sakit’

MENYEMBUHKAN SAKIT LIVER
Priyo. Surabaya.
Pengusaha ini menderita sakit liver sudah bertahun-tahun dan harus selalu minium obat untuk mempertahankan kondisinya. Itupun SGPT dan SGOT nya masih di atas ambang batas normal. Setelah mendapatkan perawatan PENNASIA sebanyak 4 kali, bapak ini merasakan tubuhnya membaik. SGPT dan SGOT nya pun berada pada angka normal meskipun tidak minum obat-obatan lagi.
Perlu diketahui bahwa mulai terapi yang pertama, bapak ini sudah langsung meninggalkan obat. Juga seperti yang dialami oleh pasien ini.
Tri Oka. Sidoarjo.
Pegawai negeri ini bahkan pernah mengalami masa-masa kritis. Sahabatnya membesuk dan menganjurkan agar segera ke PENNASIA. Hari berikutnya kepala sekolah ini mendapatkan perawatan. Meskipun mendapat fasilitas gratis pembelian obat-obatan, bapak ini lebih suka sehat alami dan melepaskan diri dari ketergantungan obat. Terapi yang dilakukan sebanyak + 3 kali.
Evanto. Jakarta.
Pengusaha ini sejak muda merasa mudah lelah. Apalagi setelah punya istri. Setiap melaksanakan kewajibannya sebagai suami, tubuh rasanya lunglai, bahkan sampai pagi tetap belum pulih staminanya. Pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan kelainan pada organ livernya,
Dari kondisi tersebut, PENNASIA tetap berpendapat bahwa livernya tidak baik karena proses metabolisme tidak maksimal. Setelah kita normalisasi 3-4 kali, pengusaha ini merasa bahwa kondisinya sudah membaik. Hubungan suami istri tidak menjadikannya kelelahan lagi. Kelelahan pun cepat pulih kembali.
Mayoritas pasien, pada kasus tunggal, merasakan tubuhnya membaik setelah tiga kali terapi. Bagi yang menjalani tes laboratorium, angka hasil pemeriksaan menunjukkan, bahwa kondisi pasien berada dalam keadaan normal.

MENYEMBUHKAN SAKIT GINJAL
Sastro. Madiun.
Tubuhnya serasa sakit semua, pinggang sakit dan tidak ada nafsu makan. Sempat terucap apakah dia sudah akan meninggal dan apakah sakitnya masih bisa disembuhkan.
Pertama kali dirawat oleh PENNASIA, esoknya tubuhnya langsung terasa membaik. Terapi berikutnya hanya merupakan proses penyempurnaan untuk mencapai kesembuhan yang lebih baik.
Kuswari. Surabaya.
Menderita sakit ginjal selama 6 tahun. Karena faktor biaya, pengobatan tidak dia jalani. Selama itu pula penderita ini menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Masalahnya setiap kali akan berdiri, penderita ini harus merayap-rayap menghindari sakit di bagian pinggangnya.
Dengan perawatan yang seksama PENNASIA hanya memerlukan empat kali normalisasi. Bp. Kuswari merasakan tubuhnya membaik dan tidak lagi merayap-rayap bila bangun dari duduknya.
Ermanu. Surabaya.
Saat datang ke tempat praktek, penderita ini mengalami pembengkaan pada bagian wajah, jari-jari tangan dan kakinya. Berbagai obat dan jamu sudah dicobanya, tetapi ternyata kurang berhasil.
PENNASIA mendeteksi kondisi ginjalnya, ternyata ginjal penderita ini tertekan dan membengkak dan tidak pada posisinya yang normal. Dengan dua kali terapi normalisasi bengkak pada wajah dan jarinya mulai menghilang. Kondisinya benar-benar baik setelah enam kali terapi normalisasi, tanpa obat.

Normalisasi untuk mencapai kondisi baik, + tiga kali, untuk sakit ginjal tingkat sedang. Parameter kesembuhannya, pasien merasakan gejala dan keluhan sakit menghilang. Untuk pemantapan, pasien dipersilakan memeriksakan diri di laboratotium.

MERAWAT DIABETES
Sumaiyah. Jombang.
Penderita diabetes ini merasakan seluruh tubuhnya gatal-gatal, muncul bintik-bintik di seluruh tubuhnya. Ke dua kakinya terasa panas dan kesemutan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar gula dalam darahnya sebesar 400 bahkan pernah 600. Melihat kondisinya yang mengenaskan, keluarga yang membesuk banyak yang menangis seakan mereka tidak akan bertemu lagi.
Normalisasi untuk penderita ini dilakukan bertahap. Pada terapi yang ketiga kali, pasien ini merasakan panas dan gatal pada kakinya berangsur hilang. Perawatan berikutnya berhasil menghilangkan gatal-gatal di seluruh tubuhnya. Demikian juga kulitnya mulai berangsur membaik. Alat yang digunakan untuk perawatan adalah VASSI bagian SPIN dan CITRA bagian TARSA.
Setelah terapi yang ke sepuluh kali, pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar gulanya mendekati normal. Hanya saja ibu ini tetap melakukan diet yang cukup ketat agar kondisinya tetap baik.
Sunarti. Surabaya.
Ibu ini menderita gangguan mata setelah menderita diabetes. Matanya mulai kabur dan pandangannya kurang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa saraf di bagian matanya terganggu akibat endapan gula yang terbawa oleh aliran darah ke bagian tersebut. Setelah tiga kali normalisasi, matanya mulai terasa terang kembali.
Sakit diabetes ini memang sakit yang paling merepotkan. Kadar gula dalam darah yang berlebih ini beredar ke seluruh tubuh. Bagian-bagian yang lemah atau strukturnya kurang baik, mengalami gangguan akibat masuknya gula dalam jumlah banyak dan terus menerus.
Bagian yang strukturnya kurang baik akan terjadi pengendapan. Pada daerah kaki hal ini mengakibatkan efek yang beragam. Kaki terasa berat, kesemutan atau panas. Bahkan ada bagian-bagian yang menghitam akibat endapan gula ini menghalangi proses pergantian sel.

MENYEMBUHKAN SAKIT DIARE
Suparman. Surabaya.
Menderita sembelit sudah lama. Ketika dirawat sebuah RSU di Surabaya, berbagai obat sudah diberikan kepadanya. Tetapi tidak ada yang mempan dan tetap susah buang air besar. Akhirnya oleh dokter diberikan obat pamungkas. Bapak yang sudah berusia 60 an ini akhirnya bisa buang air besar, tetapi menderita diarhea yang tidak kunjung sembuh.
Menurut beliau ke tujuh dokter yang merawatnya, termasuk profesornya sampai bingung mengatasi hal ini. Selama beberapa bulan, selain diarhea pada siang hari bapak ini mengalami diarhea antara 7 – 15 kali tiap malam.
“Saya lebih baik mati saja dari pada harus menderita seperti ini. Saya harus kesakitan tiap malam dan tidak bisa tidur”
Penderita ini sembuh dengan 4 kali normalisasi PENNASIA. Alat yang digunakan adalah TANDUK dengan bagian GASTRO dan GASTRIN, alat VASSI dengan bagian SPIN dan alat SIPUT bagian TAIL.

MENYEMBUHKAN SAKIT SEMBELIT
Ny. Makruf. Surabaya.
Setelah keluhan utama, sakit jantungnya membaik, ibu ini menyampaikan bahwa dia mengalami susah buang air besar setelah menjalani operasi ambeien.
Selama tiga tahun, setiap hari ibu ini harus menggunakan obat pencahar untuk buang air besar. Karena sudah berulangkali mencoba tanpa pencahar tidak berhasil, ibu ini menganggap bahwa itu suatu kewajaran akibat operasi ambeien.
Ibu ini dapat buang air besar dengan normal setelah kami rawat 4 kali normalisasi. Kemungkinan kasusnya, saraf dan otot sekitar operasi ambeien ikut melemah akibat obat bius waktu itu, dan tidak segera pulih.
Dengan sistim abrasi, penurunan elastisitas otot-otot penunjang di daerah itu diperbaiki. Aliran darah di lancarkan dan elastisitas usus besar dinormalkan. Alat yang digunakan adalah VASSI, TANDUK dan SIPUT.

Comments are closed.