Testimoni Kesembuhan Tekanan Darah Rendah
TESTIMONI KESEMBUHAN TEKANAN DARAH RENDAH
M. Teguh S. Jember, Jatim.
Mahasiswa ITS jurusan elektro ini mengeluhkan sakit darah rendahnya. “Setiap kali lembur hingga lewat pukul 01.00, pagi harinya, pertama kali membuka mata, saya pasti tidak bisa bangun. Menggerakkan kepala pun sulit. Sekeliling kamar serasa berputar” jelasnya.
Ketika ditanyakan kepastian kejadian yang dialaminya, satu-satunya lelaki dari empat bersaudara ini mempertegas ”itu pasti terjadi”. Kondisi ini memang menyulitkan. Apalagi bagi mahasiswa semester akhir yang sudah barang tentu perlu banyak lembur dalam menyelesaikan tugas akhir.
Normalisasi pasien ini dilakukan pada saraf-saraf kepala, terutama pada lokasi a. cerebri media (arteri otak tengah). Selang satu hari kemudian tes dilakukan. Mahasiswa ini tidur setelah pk. 01.30 dinihari.
Hasilnya, begitu terbangun, kamar tak lagi berputar. Bukan hanya itu, langsung duduk pun bisa.
“Wah.. Ini hebat. Terima kasih mas..” katanya.
Eliana. Panarukan Jawa Timur.
Ibu muda ini menderita sakit tekanan darah rendah sudah bertahun-tahun dan mengeluhkan penderitaannya setiap datang bulan. Rasa pusing di kepala dan badan lemah. Jalan keluar yang dia tempuh biasanya dengan pengobatan darah rendah dari dokter.
“Setiap bulan saya harus tiduran selama tiga hari kalau datang bulan” katanya.
Karena penderitaannya, waktunya banyak yang terbuang, dan biaya ekstra tiap bulan ke dokter. Disamping itu efek samping dari obat-obatan penghilang rasa sakit yang selalu diminumnya memang menjadi beban pikiran tersendiri.
Dari wawancara dan deteksi yang dilakukan, terdeteksi adanya beberapa gangguan. Dimungkinkan pompa jantungnya kurang kuat. Namun gangguan utama terjadi pada daerah leher, kepala belakang dan sekitar mata.
Hanya dengan tiga kali normalisasi, ibu ini sudah tidak merasakan pusing seperti biasanya, sehingga obat yang telah dipersiapkan tidak jadi diminum. Bahkan rasa lesu dan lemah pun mulai menghilang.
Ny. Tari. Sidoarjo.
“Saya sering pusing. Memang bawaan saya darah rendah kok” katanya.
“Suatu saat saya ke PMI mau donor darah. Tetapi ketika ditensi, tekanan darah saya sangat rendah. Yang atas 70 dan bawahnya (diastole) tidak terdeteksi. Petugasnya takut dan saya dianjurkan langsung opname ke rumah sakit”
“Karena saya pernah alergi debu dan sembuh di Pennasia, jadi saya langsung ke sini saja” katanya, waktu kami tanya kenapa tidak opname.
Dengan tiga kali terapi tekanannya menjadi 110/70 sebagaimana biasanya.



